
Telah tiba bulan yang begitu agung, musim yang begitu mulia, bulan yang dikenal dengan bulan ibadah. Berupa puasa, sholat malam, sedekah, membaca Al-Qur’an, berbakti, memberi makanan, dan lain sebagainya.
Seluruh amalan mulia terhimpun pada satu bulan yang bernama “Romadhon”. Bulan yang dirindukan oleh orang-orang shalih, karena pada bulan ini lah mereka memiliki kesempatan yang lebih tinggi untuk semakin dekat dengan Allah Ta’ala.
Sehingga sampai di bulan romadhon merupakan nikmat yang begitu besar bagi hamba-hamba Allah, terkhusus bagi mereka yang telah terbiasa beramal ketaatan sebelum datangnya bulan romadhon. Karenanya sebagai seorang hamba bersyukur sudah menjadi hal yang wajib tatkala Allah sampaikan kita ke bulan yang mulia ini. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus:58)
Termasuk kewajiban pula bagi hamba-hamba Allah Ta’ala untuk bersemangat dan bergembira dengan datangnya bulan romadhon serta menyambut bulan romadhon dengan taubat yang nasuuh.
Telah datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hadits yang memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan romadhon. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَتَاكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ ، فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَه ، تُفْتَحُ فِيْه أَبْوَابُ الجَنَّةِ ، وَتُغلَق فِيْهِ أَبْوَابُ الجَحِيْم ، وتُغَلُّ فِيْهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِيْنِ ، وَفِيْهِ لَيْلَةٌ هِيَ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَها فَقَدْ حُرِمَ
“Telah datang kepada kalian bulan romadhon, bulan yang penuh dengan keberkahan, Allah telah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa, padanya (bulan romadhon) dibukakan pintu-pintu surga, dan ditutup pintu-pintu jahiim (neraka), dan setan-setan dibelenggu, padanya pula ada bulan yang lebih baik dari seribu bulan, siapa saja yang dihalangi dari kebaikan, sejatinya ia telah dihalangi dari kebaikan (yang besar).” (HR. An-Nasai 4/129 dan dalam Shahihul Jaami’ No.55)
Berkata para ulama:
“Hadits ini merupakan dalil para sahabat saling memberikan kegembiraan dan kebahagiaan ketika bulan romadhon tiba.”(1)
Sambutlah romadhon dengan niat yang jujur dan tulus, sambutlah romadhon dengan jiwa yang siap untuk menyambut romadhon dengan tabuat yang jujur dan nasuuh. Sambutlah romadhon dengan puasa dari segala hal yang diharamkan. Sambutlah romadhon dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau menjadi manusia yang paling dermawan tatkala tiba bulan romadhon.
Inilah saatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, momentumnya orang-orang shalih menjadi terdepan dalam kebaikan. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton tanpa ikut serta. Siapa yang tidak ikut serta dalam perlombaan ini, sungguh ia telah mendapatkan kerugian yang begitu besar, sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadits di atas.
Wallahul muwaffiq
Zia ‘Abdurrofi
Depok, 30 Sya’ban 1447 H- 18 Februari 2026
(1) Durus fi Romadhon hal.18 – ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rajihi




